18
Des
09

MASIH ADAKAH KEBEBASAN ITU? CATATAN BUAT MUKLIS GUMILANG

“Rezim yang sekarang kurang total. Supaya lebih total idealnya: Presidennya Susno Duadji, Wapresnya Tifatul Sembiring, Menko Perekonomian Robert Tantular, Jaksa Agung Anggodo, Menteri Keuangan Fachri Hamzah, Menteri Luar Negeri Ruhut Sitompul, … siapa lagi ya?”

Demikian tulisan Muklis Gumilang di status Facebooknya pagi ini. Sebagaimana biasa, tulisan maupun video Muklis hampir selalu berangkat dari situasi politik yang tengah berkembang. Namun pagi ini rupanya ada yang tidak sreg dengan tulisan tersebut. Entah memang kader partai atau tidak, ada yang mewarning Muklis dengan komentar di FB yang sama “…. bakal dikeroyok orang (menyebut salah satu partai) se Indonesia.” Gayung bersambut, banyak bermunculan komentar-komentar lain yang mayoritas mensupport Muklis.

“Alhamdulillah saya mendapat ancaman kekerasan di inbox dari beberapa teman yang mengaku kader PKS. Saya menerimanya sebagai humor. Saya anti kekerasan, motong ayam aja nggak tega, tetapi insya Allah saya tidak takut ancaman kekerasan terhadap saya.”

Demikian tulis Muklis kemudian di status FBnya.

Siapa yang salah? Entahlah, yang pasti selama ini tulisan maupun video Muklis memang seakan selalu mewakili apa yang dipikirkan dan dirasakan masyarakat saat ini. Bagi sebagian facebooker, belum lengkap kalau dalam satu hari itu tidak membaca tulisan Muklis dengan gaya sederhana namun sarat makna.

Yang aneh, kasus Prita saja masih hangat dibicarakan. Betapa masyarakat sudah muak dengan penekanan terhadap berekspresi. Bukan hal gampang untuk dapat  mengumpulkan receh. Inilah gambaran masyarakat kita sekarang yang sudah ‘melek’ dan mendukung kebebasan berpendapat tanpa ‘tapi’.

Pas pula hari ini momentum ‘Hijrah’. Perenungan tentu secara pribadi telah dilakukan. Semua wajib berharap kebaikan di tahun bari ini. Bukan kemunduran. Filosofi hijrah tidak lepas dari pelajaran dan keteladanan Rasulullah SAW. Menangis rasanya apabila membaca Syirah Nabawiyyah, yang mana Rasulullah SAW selalu memperoleh cacian, makian, serta bahkan hal-hal berbentuk fisik. Inilah keteladanan agung, semua disikapi Rasulullah dengan akhlaqulkarimah. Banyak kisah mengenai hal ini.

Sangat berbeda kebebasan berekspressi dengan fitnah atau pencemaran nama baik. Jangan semua yang dirasakan tidak enak itu dapat disebut fitnah atau pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan.

Indonesia harus lebih banyak mememiliki  sosok seperti  Muklis Gumilang. Yang mampu mengemas kritik dan suara masyarakat dengan tutur sederhana dan menarik dibaca. Kalaupun kita terkadang tertawa geli membacanya, bukan karena lucu, tapi lebih daripada menertawakan diri sendiri yang masih sangat bodoh dan gampang dininabobokan. Maju terus Kang Muklis!!!


2 Responses to “MASIH ADAKAH KEBEBASAN ITU? CATATAN BUAT MUKLIS GUMILANG”


  1. Desember 18, 2009 pukul 1:26 am

    Dalam perjalanan menuju Senayan aku melintasi pekuburan karet
    tumben aku teringat Chairil Anwar dan menepi sejenak

    Bung Chairil yang ingin hidup seribu tahun lagi tetapi sayang mati muda
    … See More
    Sajak-sajakmu bung, yang patriotik galak menyentak tak pernah usang memanggang semangatku

    Bung Chairil, karena bung tak hidup sampai seribu tahun maka bung tak menyaksikan
    berjuta kata berhamburan setiap hari di fesbuk di mana-mana

    Negara kita telah menjadi negara demokrasi multi partai sekarang
    orang menjadi ketua partai dengan uang dari cukong dan entah dari mana
    partai-partai mirip perusahaan dagang, menjual harga diri murah sekali
    jabatan dan kekuasaan semuanya serba transaksional bung

    Orang mau jadi Bupati, Gubernur, Presiden, harus pakai uang banyak bung
    entah dari mana
    buat biaya tim sukses, survey, iklan dan sebagainya
    termasuk untuk membeli beliau-beliau yang katanya pemuka agama

    Rakyat miskin sangat banyak bung
    mungkin jumlahnya tak jauh berbeda dengan saat bung masih hidup, mungkin lebih
    dan rakyat miskin itu suaranya dibeli murah cuma dengan beberapa puluh ribu rupiah
    oleh yang namanya tim sukses itu dengan sumber dana entah dari mana
    rakyat miskin itu memang kasihan karena mereka tak mengerti
    karena para pemuka agama juga banyak yang memberi contoh begitu
    tetapi harganya beda dong bung

    Seandainya bung masih hidup seperti apa kira-kira sajak yang bung tulis
    tentang semua keadaan ini?

    Ngomong-ngomong bung, apakah dari sana masih bisa menyaksikan semua ini
    dan apakah bisa mendapat bocoran dari malaikat tentang
    seperti apa para penguasa negara kita dalam penilaian Tuhan?

    Sebuah Senin di Bulan Desember Muklis Gumilang

  2. 2 jack hany
    Juli 29, 2011 pukul 12:23 pm

    tak heran tulisan Bung MG memang santai tapi serius, bobotnya tinggi tapi merendah, takut dg orang kecil tapi tapi berani dengan orang besar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: